Friday, December 23, 2016

Sajak Yang Lenyap

Pernah beberapa bait kutulis kau dalam kata. Kadang semanis gula kadang sepahit isi dalam secangkir kopi. Bukannya aku kemudian lupa, kamu sadar itu. Bukan pula aku ingin berpura pura. Tapi untuk apa kemudian jika pada akhirnya kau sudah tak lagi denganku. Bila saja semua penantian berujung temu, aku akan selalu menanti mu. Tapi sudah,  lembaran bait namamu kini hanya sebatas aksara serupa gula yang larut. Lenyap tak berampas. Doa-doa tentangmu tak lagi kuucap. Tak melangit seperti biasanya. Semua terasa hilang perlahan. Aku harus melupakanmu, memaafkanmu, dan mengiklaskanmu walau hatiku memberontak dan semua sudah di luar kendaliku! Kamu keras kepala! Hatiku juga!

-bulan penuh dalam ruang bernomor 241216
-LFF

No comments:

Post a Comment